A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; General has a deprecated constructor

Filename: libraries/General.php

Line Number: 6

Backtrace:

File: /var/www/fakultas/fusi/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 173
Function: _ci_load_library

File: /var/www/fakultas/fusi/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 65
Function: initialize

File: /var/www/fakultas/fusi/application/controllers/Page.php
Line: 8
Function: __construct

File: /var/www/fakultas/fusi/index.php
Line: 292
Function: require_once

DEKONSTRUKSI TAKLID ANALISIS METODOLOGI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM IMAM ASY-SYAUKAN | fu.uinsu.ac.id
DEKONSTRUKSI TAKLID ANALISIS METODOLOGI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM IMAM ASY-SYAUKAN

SUGENG WANTO

DEKONSTRUKSI TAKLID

ANALISIS METODOLOGI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM IMAM ASY-SYAUKAN

 

Penulis                         : Sugeng Wanto, S.Ag.,Ma.

Pengantar                    : Prof. Dr. Amroeni Drajat, M.Ag

Editor                          : Diah Widya Ningrum

Penerbit                       : Panjiaswaja Press

Cetakan pertama         : 2011

 

SINOPSIS

            Perkembangan taklid, membuat asy-syaukani sangat keras dalam mengeluarkan ijtihad dan ittiba. Dua hal yang dijadikan nya sebagai solusi alternatif dalam membebaskan ummat dari keterkaitan taklid.seara normatif, asy-syaukani hanya mengakui dua kategori kukalaf yaitu mujtahid dan muttabii, walau secara realitas-sosial muqallid senantiasa ada. Ia tidak menyetujui eksitensi muqallid karena tidak sesuai dengan ajaran al-qur’an dn sunah nabi saw. Dalam pandangan itu menu jukan bahwa asy-syaukani tidak membolehkan ber bertaklid.jadi hanya ada du akemungkinan yang di berikan oleh asy-syaukani . jika ia seorang alim memiliki kemampuan serta perangkat yang di perlukan untuk berjihad, maka kepadanya di wajibkan ber iijtihad. Sebaliknya, jika ia seorang yang tidak mengetahui ilmu-ilmu ijtihad(orang awam) kepadanya diharuskan untuk bertanya kepada ulama tentang status hukum persoalan yang ditanyakan dengan disertai argumen-argumen dari nas syai’ah yang mendasarinya. Hal yang demikian itu tidaklah disebut taklid, namun disebut ittiba, karena hal tersebut termasuk beramal berdasarkan riwayat (al-amal bi al-riwayah) bukan beramal berdasarkan pendapat pribadi seseorang (al-amal bi al-ra’yi)